Penanganan Panen dan Pasca Panen Pada Tan. Hortikultura

Selasa, 19 April 2011

Hortikultura berasal dari kata “hortus” (= garden atau kebun) dan “colere” (= to cultivate atau budidaya). Secara harfiah istilah Hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buah-buahan, sayuran dan tanaman hias. Sehingga Hortikultura merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari budidaya buah-buahan, sayuran dan tanaman hias. Sedangkan dalam GBHN 1993-1998 selain buah-buahan, sayuran dan tanaman hias, yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah tanaman obat-obatan. Ditinjau dari fungsinya tanaman hortikultura dapat memenuhi kebutuhan jasmani sebagai sumber vitamin, mineral dan protein (dari buah dan sayur), serta memenuhi kebutuhan rohani karena dapat memberikan rasa tenteram, ketenangan hidup dan estetika (dari tanaman hias/bunga)(Anonim, 2011)
Peranan hortikultura adalah :
a). Memperbaiki gizi masyarakat,
 b) memperbesar devisa negara,
c) memperluas kesempatan kerja,
d) meningkatkan pendapatan petani, dan
e)pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan.
 Namun dalam kita membahas masalah hortikultura perlu diperhatikan pula mengenai sifat khas dari hasil hortikultura, yaitu : a). Tidak dpat disimpan lama, b) perlu tempat lapang (voluminous), c) mudah rusak (perishable) dalam pengangkutan, d) melimpah/meruah pada suatu musim dan langka pada musim yang lain, dan e) fluktuasi harganya tajam. Dengan mengetahui manfaat serta sifat-sifatnya yang khas, dalam pengembangan hortikultura agar dapat berhasil dengan baik maka diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam terhadap permasalahan hortikultura tersebut.
Kerugian yang terjadi pada produk hortikultura segar perlu diperhatikan dengan mengetahui langkah-langkah yang benar pada tindakan panen dan pascapanen. Kerugian meliputi hilangnya sebagian atau total, kehilangan kualitas, kehilangan air, membusuk dan kerusakan fisik.
Hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki masa depan sangat cerah menilik dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia waktu mendatang. Oleh karenanya kita harus berani untuk memulai mengembangkannya pada saat ini. Seperti halnya negara-negara lain yang mengandalkan devisanya dari hasil hortikultura, antara lain Thailand dengan berbagai komoditas hortikultura yang serba Bangkok, Belanda dengan bunga tulipnya, Nikaragua dengan pisangnya, bahkan Israel dari gurun pasirnya kini telah mengekspor apel, jeruk, anggur dan sebagainya.


ISI


1.      PANEN

              Panen merupakan suatu kegiatan pemungutan hasil pertanian yang telah cukup umur dan sudah saatnya untuk dipetik hasilnya.Produk hortikultura setelah panen tidak bisa dinaikan, hanya bisa dipertahankan. Pada saat panen kwalitas harus maksimal, dengan penanganann yang baik dapat dipertahankan untuk waktu yang lama. Indicator yang dapat digunakan untuk penentuan waktu panen yang tepat menurut Purwadaria (1989) antara lain sebagai berikut :
1. Indicator fisik
              Indikator fisik sering digunakan khususnya pad beberapa komuditas buah .Indikatornya 
       adalah:
a.       Buah mudah tidaknya dilepaskan dari tangkainya, uji kesegaran buah denagn   menggunkaan onenetrometer.
b.       Uji kesegaran buah lebih objektif, karena dapat dikuantitatifkan.
      2.      Indicator visual
              Paling banyak dipergunakan baik pada komoditas bauh ataupun komoditas  sayur.Indikatornya yaitu:                                                                                
a.        Berdasarkan warna kulit,ukuran dan bentuk.
b.       Berdasarkan karakteristik permukaan dan bagian tanaman yang mengering.
Sifatnya sangat subjektif , keterbatasan dari indra penglihatan manusia.Sering salah pemenenan dialakukan terlalu muda/awal/atau terlalu tua/ lewat panen.



3.      Analisis kimia
              Terbatas pada perusahan besar , lebih banyak pada komoditas buah.Indikator nya adalah:                                                                                                           
a.       Jumlah kandungan zat padat terlarut,
b.      Jumlah kandungan asam,
c.       Jumlah kandungan parti,
d.      Jumlah kandungan gula
Metode analisis kimia lebih objektif dari visual karena terukur.Dasarnya: terjadinya perubahan biokimia selama proses pemasakan buah.
Perubahan yang sering terjadi adalah:                                                                 
a.        Pati menjadi gula,
b.       Menurunnya kadar asam,
c.        Meningkanya zat padat terlarut.

4.      Indikator fisiologis
Indikator utamanya adalah:
a.  Laju respirasi
b. Jumlah konsentrasi dan konsentrasi etilen.
Indikator fisiologis sangat baik diterapkan pada komoditas yang bersifat klimaterik.Saat komoditas tercapai masak fisiologis respirainya mencapai klimaterik.Apabila laju respirasi suatu komoditas sudah mencapai klimaterik, siap dipanen.                                  
5.    Komputasi
Indeksnya adalah:
a. Jumlah dari rata-rata harian selama satu siklus hidup tanaman mulai dari penanaman sampai masak fisiologis.
b. Unit panas setiap tanaman.
Dasarnya adalah adanya korelasi positif antara suhu lingkungan denagn pertumbuhan tanaman.Dapat diterapkan baik pada komoditas buah maupun sayur
                   
                    Setelah diketahui bahwa produk hortikultura sudah cukup tua untuk dipanen, panen dapat segera dilakukan dan produk harus dikumpulkan di lahan secepat mungkin. Panen harus dilakukan secepat mungkin, dengan kerusakan produk sekecil mungkin, dan biaya semurah mungkin. Umumnya panen masih dilakukan secara manual menggunakan tangan dan peralatan-peralatan sederhana. Meskipun memerlukan banyak tenaga kerja, panen secara manual masih lebih akurat, pemilihan sasaran panen juga dapat lebih baik dilakukan, kerusakan fisik yang berlebihan dapat dihindari, dan membutuhkan biaya yang lebih kecil dibandingkan dengan panen menggunakan peralatan mekanis (Suparlan, 1990)
Cara panen yang umum dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Dengan cara ditarik: apokat, kacang polong, tomat
2. Dengan cara dipuntir: jeruk, melon
3. Dengan cara dibengkokkan: nenas
4. Dengan cara dipotong: buah dan sayuran pada umunya, dan bunga potong
5. Dengan cara digali dan dipotong: umbi, dan sayuran akar
6. Dengan menggunakan galah: buah pada di pohon yang tinggi secara umum
                    Beberapa bagian yang Dipanen menurut Dhalimi(1990) antara lain :
                    a. Biji.
                    Panen tidak bisa dilakukan secara serentak karena perbedaan waktu pematangan dari buah atau polong yang berbeda. Pemanenan biji di-lakukan pada saat biji telah masak fisiologis. Fase ini ditandai dengan sudah maksimalnya pertumbuhan buah atau polong dan biji yang di dalamnya telah terbentuk dengan sempurna. Kulit buah atau polong mengalami perubahan warna misalnya kulit polong yang semula warna hijau kini berubah menjadi agak kekuningan dan mulai mengering. Pemanenan biji pada tanaman se-musim yang sifatnya determinate dilakukan secara serentak pada suatu luasan tertentu. Pemanenan dilaku-kan setelah 60% kulit polong atau kulit biji sudah mulai mongering. Hal ini berbeda dengan tanaman se-musim indeterminate dan tahunan, yang umumnya dipanen secara ber-kala berdasarkan pemasakan dari biji/polong.
                    b. Buah.
                    Buah harus dipanen setelah masak fisiologis dengan cara me-metik. Pemanenan sebelum masak fisiologis akan menghasilkan buah dengan kualitas yang rendah dan kuantitasnya berkurang. Buah yang dipanen pada saat masih muda, seperti buah mengkudu, jeruk nipis, jambu biji dan buah ceplukan akan memiliki rasa yang tidak enak dan aromanya kurang sedap. Begitu pula halnya dengan pemanenan yang terlambat akan menyebabkan pe-nurunan kualitas karena akan terjadi perombakan bahan aktif yang ter-dapat di dalamnya menjadi zat lain. Selain itu tekstur buah menjadi lembek dan buah menjadi lebih cepat busuk.
                    c. Daun.
                    Pemanenan daun dilakukan pada saat tanaman telah tumbuh maksimal dan sudah memasuki periode matang fisiologis dan dilakukan dengan memangkas tanaman. Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan pisau yang bersih atau gunting stek. Pemanenan yang terlalu cepat menyebabkan hasil produksi yang diperoleh rendah dan kandungan bahan bahan aktifnya juga rendah, seperti tanaman jati belanda dapat dipanen pada umur 1 - 1,5 tahun, jambu biji pada umur 6 - 7 bulan, cincau 3 - 4 bulan dan lidah buaya pada umur 12 - 18 bulan setelah tanam. Demikian juga dengan pe-manenan yang terlambat menyebab-kan daun mengalami penuaan (se-nescence) sehingga mutunya rendah karena bahan aktifnya sudah ter-degradasi. Pada beberapa tanaman pemanenan yang terlambat akan mempersulit proses panen.
                    d. Rimpang.
                    Untuk jenis rimpang waktu pe-manenan bervariasi tergantung peng-gunaan. Tetapi pada umumnya pe-manenan dilakukan pada saat tanam-an berumur 8 - 10 bulan. Seperti rimpang jahe, untuk kebutuhan eks-por dalam bentuk segar jahe dipanen pada umur 8 - 9 bulan setelah tanam, sedangkan untuk bibit 10 - 12 bulan. Selanjutnya untuk keperluan pem-buatan jahe asinan, jahe awetan dan permen dipanen pada umur 4 - 6 bulan karena pada umur tersebut serat dan pati belum terlalu tinggi. Sebagai bahan obat, rimpang di-panen setelah tua yaitu umur 9 - 12 bulan setelah tanam. Untuk temu-lawak pemanenan rimpang dilaku-kan setelah tanaman berumur 10 - 12 bulan. Temulawak yang dipanen pada umur tersebut menghasilkan kadar minyak atsiri dan kurkumin yang tinggi. Penanaman rimpang dilakukan pada saat awal musim hujan dan dipanen pada pertengahan musim kemarau. Saat panen yang tepat ditandai dengan mulai menge-ringnya bagian tanaman yang berada di atas permukaan tanah (daun dan batang semu), misalnya kunyit, temulawak, jahe, dan kencur.
                    e. Bunga.
                    Bunga digunakan dalam industri farmasi dan kosmetik dalam bentuk segar maupun kering. Bunga yang digunakan dalam bentuk segar, pemanenan dilakukan pada saat bunga kuncup atau setelah per-tumbuhannya maksimal. Berbeda dengan bunga yang digunakan dalam bentuk kering, pemanenan dilakukan pada saat bunga sedang mekar. Seperti bunga piretrum, bunga yang dipanen dalam keadaan masih kuncup menghasilkan kadar piretrin yang lebih tinggi dibandingkan dengan bunga yang sudah mekar.
                   
                    f. Kayu.
                    Pemanenan kayu dilakukan setelah pada kayu terbentuk senyawa metabolit sekunder secara maksimal. Umur panen tanaman berbeda-beda tergantung jenis tanaman dan ke-cepatan pembentukan metabolit sekundernya. Tanaman secang baru dapat dipanen setelah berumur 4 sampai 5 tahun, karena apabila dipanen terlalu muda kandungan zat aktifnya seperti tanin dan sappan masih relatif sedikit.

                   

            Disamping cara panen, waktu panen juga mempengaruhi kualitas produk hortikultura yang dihasilkan. Umumnya panen dilakukan pagi hari ketika matahari baru saja terbit karena hari sudah cukup terang tetapi suhu lingkungan masih cukup rendah sehingga dapat mengurangi kerusakan akibat respirasi produk dan juga meningkatkan efisiensi pemanenan. Beberapa jenis produk hortikultura lebih baik dipanen agak siang agar embun yang menempel pada produk telah mengering, atau sekalian sore hari bila suhu lingkungan juga menjadi pertimbangan penting. Hal ini dapat mengurangi luka bakar akibat getah yang mengering pada buah-buah yang mengeluarkan getah dari tangkainya seperti mangga, atau mengerluarkan minyak seperti jeruk, dan mengurangi kerusakan mekanis (sobek) pada sayuran daun (Winarno, 2001)


2. PASCA PANEN

            Dalam bidang pertanian istilah pasca panen diartikan sebagai berbagai tindakan atau perlakuan yang diberikan pada hasil pertanian setelah panen sampai komoditas berada di tangan konsumen. Istilah tersebut secara keilmuan lebih tepat disebut Pasca produksi (Postproduction) yang dapat dibagi dalam dua bagian atau tahapan, yaitu pasca panen (postharvest) dan pengolahan (processing). Penanganan pasca panen (postharvest) sering disebut juga sebagai pengolahan primer (primary processing) merupakan istilah yang digunakan untuk semua perlakuan dari mulai panen sampai komoditas dapat dikonsumsi “segar” atau untuk persiapan pengolahan berikutnya Winarno (2001).
            Umumnya perlakuan tersebut tidak mengubah bentuk penampilan atau penampakan, kedalamnya termasuk berbagai aspek dari pemasaran dan distribusi. Pengolahan (secondary processing) merupakan tindakan yang mengubah hasil tanaman ke kondisi lain atau bentuk lain dengan tujuan dapat tahan lebih lama (pengawetan), mencegah perubahan yang tidak dikehendaki atau untuk penggunaan lain. Ke dalamnya termasuk pengolahan pangan dan pengolahan industri.Gambaran umum karakteristik komoditas hortikultura bersifat volumunios (membutuhkan tempat yang besar) dan perishable (mudah rusak) sehingga dibutuhkan penanganan pasca panen yang cepat dan tepat. Hal utama yang timbul akibat penanganan yang kurang tepat dan cepat tersebut adalah tingginya kehilangan atau kerusakan hasil (Dhalimi,1990).
Hal ini disebabkan antara lain penanganan pasca panen produk hortikultura yang masih dilakukan secara tradisional atau konvensional dibandingkan kegiatan pra panen. Terlihat bahwa masih rendahnya penerapan teknologi, sarana panen/pasca panen yang terbatas, akses informasi dalam penerapan teknologi dan sarana pasca panen juga terbatas sehingga menjadi kendala dalam peningkatan kemampuan dan pengetahuan petani/pelaku usaha (Anonim, 1993).
Pasca panen merupakan kelanjutan dari proses panen terhadap tanaman budidaya atau hasil dari penambangan alam yang fungsinya antara lain untuk membuat bahan hasil panen tidak mudah rusak dan memiliki kualitas yang baik serta mudah disimpan untuk diproses selanjutnya
Penanganan pasca panen hortikultura secara umum bertujuan untuk memperpanjang kesegaran dan menekan tingkat kehilangan hasil yang dilaksanakan melalui pemanfaatan sarana dan teknologi yang baik. Oleh karena itu, untuk mengurangi dampak teknologis, ekologis dan ekonomis diperlukan road map (peta perjalanan) penanganan pasca panen hortikultura sebagai landasan dalam penyusunan program kegiatan, rencana aksi serta kebijakan (Dhalimi,1990).
Tahapan Penanganan Pasca Panen :
1.      Pemanenan : Pemungutan hasil pertanian yang teah cukup umur
2.      Pengumpulan : Mengumpulkan hasil panen untuk mempermudah penyortiran.
3.      Sortasi : Pemisahan hasil panen yang baik dan jelek.
4.      Pencucian :Mencuci Produk hasil sortasi dari kotoran
5.      Grading: Untuk mendapatan sayuran yang baik dan seragan dalam suatu kelas yang     sama sesuai dengan standard yang telah ditetapkan atau sesuai dengan permintaan konsumen.
6.      Pengemasan : Untuk mengurangi terjadinya kerusakan karena benturan sesama produk selama penyimpanan.
7.      Penyimpanan dan pendinginan : Menekan enzim respirasi agar aktivitasnya serendah mungkin sehingga laju respirasinya kecil dan produk terjaga kesegaranya.
8.      Transportasi:Mendistribusikan hasil pertanian yang telah melewati tahap-tahap pascapanen.




PENUTUP


Dari hasil pembahasan tentang panen dan pasca panen hortikultura, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Panen merupakan suatu kegiatan pemungutan hasil pertanian yang telah cukup umur dan sudah saatnya untuk dipetik hasilnya
2.      Indikator yangdapat digunakan untuk penentuan waktu panen yang tepat adalah indicator fisk, indicator visual, indicator fisioligis, analisis kimia, dan komputasi
3.      Pasca panen merupakan kelanjutan dari proses panen terhadap tanaman budidaya atau hasil dari penambangan alam yang fungsinya antara lain untuk membuat bahan hasil panen tidak mudah rusak dan memiliki kualitas yang baik serta mudah disimpan untuk diproses selanjutnya.
4.      Tahapan penanganan pasca panen meliputi pemanenan, pengumpulan, sortasi, penyucian, grading, pengemasan, penyimpanan dan pendinginan, transportasi.














DAFTAR PUSTAKA

 Anonim, 2011., Hortikultura. http://id.wikipedia.org/wiki/Hortikultura. Diakses pada tanggal 14 April 2011.


______ (1987)., Lima Tahun Badan Penelitian dalam Pembangunan Pertanian. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian.

Dhalimi, A. 1990., Penanganan Pasca Panen Buah-buahan dan Sayuran Segar. Makalah Pelatihan Kerja sama FAO - Dep. Perdagangan di Jakarta 12 - 14 Pebruari 1990, p. 17 - 37.

Noor, H. dan Muhammad (1994)., Penumpukan Sementara (Bulk Storage) dan Pengasapan Brangkasan Kedelai Hasil panen Musim Hujan. Dalam Noor, H., S. Saragih, D. Nazemi, M.

Willis, dan M. Damanik (Eds.)., Risalah Hasil Penelitian Kacang-Kacangan 1990-1993. Banjarbaru: Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian - Balai Penelitian Tanaman Pangan.

Suparlan (1990)., Mempelajari Susut Pasca Panen Kacang Tanah di Kabupaten Simalungun Sumatera Utara. Skripsi. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian IPB.

Purwadaria, H.K (1989)., Teknologi Penanganan Pasca Panen Ubi Kayu. Deptan-UNDP-FAO.

Syarif, R dan H. Halid (1993)., Teknologi Penyimpanan Pangan. Jakarta: Arcana.

Winarno, F.G. 2001., Penanganan Pasca Panen. Bahan Kuliah (Diktat) Penanganan Pasca Panen Bogor: Program Studi PGKP FATETA IPB.







Kamis, 14 April 2011

PENGENALAN GEJALA SERANGAN

1.   CENDAWAN
Nama Patogen : Phytophthora palmivora
Klasifikasi :
Kerajaan               : Protista
Filum                     : Heterokontophyta
Kelas                     : Oomycetes
Ordo                      : Peronosporales
Famili                    : Pythiaceae
Genus                   : Phytophthora
Spesies                 : P.palmivora


Gambar : Busuk buah kakao
Bioekologi
Phytophthora palmivora merupakan salah satu patogen tumbuhan yang menyerang berbagai tumbuhan budidaya. Anggota Oomycetes ini memiliki spektrum target yang luas, baik tumbuhan monokotil maupun dikotil.Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung, tengah atau pangkal buah. Lama – kelamaan bercak meluas ke seluruh badan buah
            Penyakit ini disebarkan melalui sporangium yang terbawa atau terpercik air hujan. Pembentukkan spora Phytophthora palmivora ini dapat dilihat dari adanya kumpulan warna putih di atas bercak-bercak hitam yang telah melebar ke semua arah. Suhu yang berkisar 27 – 30°C dan ditunjang oleh tingkat kelembaban 70 – 85 % sangat mendukung ( kondusif ) dalam perkembangan maupun pertumbuhan spora yang begitu cepat.
Buah kakao yang terserang dan busuk akan menularkan penyakitnya pada buah lain yang letaknya berdekatan. Selain menyerang buahnya, jamur tersebut juga dapat menyerang bagian tanaman lain seperti tangkai buah, batang, maupun tunas muda.
Pada bagian batang, gejala yang terlihat berupa bercak bulat berwarna coklat di dekat permukaan tanah. Bila kulit kayunya kita kupas maka akan terlihat warna coklat serta bagian dalam yang sudah membusuk. Biasanya penyakit ini menyerang tanaman kakao pada stadium pembungaan sampai pembentukkan buah. Pada saat tidak ada buah, jamur dapat bertahan di dalam tanah.

Gejala Serangan
Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah. Penyakit ini disebarkan melalui sporangium yang terbawa atau terpercik air hujan, dan biasanya penyakit ini berkembang dengan cepat pada kebun yang mempunyai curah hujan tinggi dengan kondisi lembab. Selain itu gejalanya adalah batang mengeluarkan getah beku terus menerus sehingga tumbuhan kehabisan energi dan menurunkan hasil.

Pengendalian
(1)  Karantina; yaitu dengan mencegah masuknya bahan tanaman kakao dari daerah terserang PBK;
(2)  Pemangkasan bentuk dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4m sehingga memudahkan saat pengendalian dan panen;
(3)  Kengatur cara panen, yaitu dengan melakukan panen sesering mungkin (7 hari sekali) lalu buah dimasukkan dalam karung sedangkan kulit buah dan sisa-sisa panen dibenam;
(4)  Penyelubungan buah (kondomisasi), caranya dengan mengguna-kan kantong plastik dan cara ini dapat menekan serangan 95-100 %. Selain itu sistem ini dapat juga mencegah serangan hama helopeltis dan tikus.;
(5)  Cara kimiawi: dengan Deltametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Buldok 25 EC dengan volume semprot 250 l/ha dan frekuensi 10 hari sekali
Sumber  :




2.   BAKTERI


Nama Patogen : Erwinia carotovora
Klasifikasi: 
Kingdom         : Bacteria
Phylum            : Proteobacteria
Class              : Gammaproteobacteria
Order              : Enterobacteriales
Family            : Enterobacteriaceae
Genus            : Erwinia
Species          : Erwinia carotovora

Gambar : Busuk lunak pada kubis

Bioekologi
            Sel bakteri berbentuk batang, dengan ukuran (1,5 - 2,0) x (0,6 ­0,9) mikron, umumnya membentuk rangkaian sel-sel seperti rantai, tidak mempunyai kapsul, dan tidak berspora. Bakteri bergerak dengan menggunakan flagela yang terdapat di sekeliling sel bakteri (flagela peritrichous). Bakteri bersifat Gram negatif. Suhu optimal untuk perkembangan bakteri 27° C. Pada kondisi suhu rendah dan kelembaban rendah bakteri terhambat pertumbuhannya. Penyebaran  melalui tanah, sisa-sisa tanaman di lapangan dan alat pertanian. Bakteri busuk lunak mempunyai daerah sebaran yang luas hampir di seluruhdunia. DiIndonesia terdapat di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
            Penyakit busuk lunak ini sangat sering dijumpai pada tanaman kubis-kubisan. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora ini ditemukan di seluruh dunia. Busuk lunak dapat menyerang seluruh tanaman kubis-kubisan, tetapi lebih sering menyerang sawi putih dan kubis. Jaringan tanaman yang telah terserang menunjukkan gejala basah dan diameter serta kedalamannya melebar secara cepat. Bagian tanaman yang terkena menjadi lunak dan berubah warna menjadi gelap apabila serangan terus berlanjut.             Tanaman yang terkena busuk lunak menimbulkan bau yang khas yang dimungkinkan oleh adanya perkembangan organisme lain setelah pembusukan terjadi. Serangan ini bisa terjadi di lahan, saat pengangkutan, ataupun saat penyimpanan. Bakteri busuk lunak timbul dari seresah tanaman yang telah terinfeksi, melalui akar tanaman, dari tanah, dan beberapa serangga. Luka pada tanaman seperti stomata pada daun, serangan serangga, kerusakan mekanis, ataupun bekas serangan dari pathogen lain merupakan sasaran yang empuk untuk serangan bakteri. Hujan dan suhu yang tinggi mendorong penyebaran di lahan. Infeksi pada saat pengangkutan dan penyimpanan merupakan kontaminasi bakteri saat di lahan maupun pasca panen melalui peralatan pengangkutan dan panen serta tempat penyimpanan. Bakteri busuk lunak dapat berkembang pada suhu 5 – 37oC dengan suhu optimum berkisar 22oC.

Gejala Serangan
            Gejala yang umum pada tanaman kubis-kubisan adalah busuk basah, berwarna coklat atau kehitaman, pada daun, batang, dan umbi. Pada bagian yang terinfeksi mulamula terjadi bercak kebasahan. Bercak membesar dan mengendap (melekuk), bentuknya tidak teratur, berwarna coklat tua kehitaman. Jika kelembaban tinggi jaringan yang sakit tampak kebasahan, berwarna krem atau kecoklatan, dan tampak agak berbutui-butir halus. Disekitar bagian yang sakit terjadi pembentukan pigmen coklat tua atau hitam. Jaringan yang membusuk pada mulanya tidak berbau, tetapi dengan adanya serangan bakteri sekunder jaringa tersebut menjadi berbau khas yang mencolok hidung
Pengendalian
(1)  Sanitasi. Menjaga Kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman sakit sebelum penanaman.
(2)  Menanam dengan jarak yang tidak terlalu rapat untuk menghindarkan kelembaban yang terlalu tinggi, terutama di musim hujan.
(3)  Pada waktu memelihara tanaman diusahakan untuk sejauh mungkin menghindari terjadinya luka yang tidak perlu, khususnya pada waktu menyerang.
(4)  Pengendalian pasca panen dilakukan dengan, a. Mencucui tanaman dengna air yang mengandung chlorine, b. Mengurangi terjadinya luka pada waktu penyimpanan dan pengangkutan, c. Menyimpan dalam ruangan yang cukup kering, mempunyai ventilasi yang cukup, sejuk dan difumigasinya sebalumnya. Untuk mencuci tanaman dapat juga di pakai boraks 7,5%.

Sumber :







3.   BAKTERI
  Nama patogen : Phytophthora infestans
Klasifikasi   :
Kingdom     : Bacteria 
Phylum       : Proteobacteria 
Class          : Beta Proteobacteria 
Order          : Burkholderiales 
Family         : Ralstoniaceae 
Genus         : Ralstonia

Gambar : Busuk lunak pada kentang
Bioekologi
            Penyakit busuk  umbi (lodoh) tanaman kentang yang disebabkan oleh serangan jamur patogen ganas Phytophthora infestans merupakan penyakit yang paling penting di antara penyakit dan hama yang menyerang tanaman kentang di Indonesia. Penyakit ini dapat menurunkan produksi kentang hingga 90% dari total produksi kentang dalam waktu yang amat singkat. Penyakit busuk daun dan umbi tanaman kentang merupakan penyakit penting dan endemik di sentra-sentra pertanaman kentang di Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Wonosobo, Temanggung, Banjarnegara dan Magelang). Patogen dapat tersebar sampai ke batang dengan sangat cepat dalam jaringan korteks yang menyebabkan kerusakan sel didalamnya. Selanjutnya, miselium tumbuh diantara isi sel batang, tetapi jarang terdapat dalam jaringan vaskuler.
            Miselium tumbuh menembus batang sampai ke permukaan tanah. Ketika mesilium mencapai udara disekitar bagian tanaman miselium memproduksi sporangiospor yang dapat menembus stomata dan menetap serta menyebar melalui daun. Sporangiospor akan terlepas dan menyebabkan infeksi baru, sel-sel dimana miselium berada dapat mati dan menjadi busuk, miselium menyebar luas sampai ke bagian yang sehat. Penyakit hawar daun kentang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans (Mont) de Bary, yang semula disebut Botrytis infestans Mont. Miselium interseluler tidak bersekat, mempunyai banyak houstorium. Konidiofor keluar dari mulut kulit, berkumpul 1-5, dengan percabangan simpodial, mempunyai bengkakan yang khas. Konidium berbentuk buah peer, 22-32 x 16-24 µm, berinti banyak 7-32. Konidium berkecambah secara tidak langsung dengan membentuk hifa (benang) baru, atau secara tidak langsung dengan membantuk spora kembara, konidium dapat juga disebut sebagai sporangium atau zoosporangium. Cendawan ini dapat membentuk spora.

Gejala serangan
            P. infestans dapat menyerang umbi, jika keadaan baik bagi pertumbuhannya pada umbi terjadi bercak yang agak mengendap, berwarna coklat atau hitam ungu, yang masuk sampai 3-6 mm ke dalam umbi. Bagian yang terserang ini tidak menjadi lunak. Bagian yang busuk kering tadi dapat terbatas sebagai bercak-bercak kecil, tetapi dapat juga meliputi suatu bagian yang luas pada satu umbi. Gejala ini dapat tampak pada waktu umbi digali, tetapi sering tampak jelas setelah umbi disimpan (Semangun.2000).
            Gejala awal bercak pada bagian tepi dan ujung kentang, bercak melebar dan terbentuk daerah nekrotik yang berwarna coklat. Bercak dikelilingi oleh massa sporangium yang berwarna putih dengan belakang hijau kelabu. Serangan dapat menyebar ke batang, tangkai dan umbi. Cendawan ini berkembang baik pada musim hujan dengan kelembaban sekitar 20o C.

Pengendalian
Pengendalian dengan cara resistensi adalah termasuk semua usaha yang tanaman menjadi imun, tahan atau toleran terhadap serangan patogen. Yang termasuk dalam resistensi adalah proteksi silang, ketahanan terimbas, aktivasi pertahanan tanaman, perbaikan kondisi pertumbuhan tanaman, dan penggunaan varietas tahan. Penggunaan varietas tahan bila varietas tersebut telah tersedia mempunyai beberapa kelebihan, yaitu murah, mudah, aman, dan merupakan salah satu cara pengendalian yang efektif untuk mengendaliakan penyakit tumbuhan. Penggunaan varietas tahan juga dapat mengurangi penggunaan fungisida sehingga mengurangi pencemaran akibat bahan racun tersebut (Latief, 2003).

Sumber
http://anafzhu.blogspot.com/2009/06/hawar-umbi-phytophthora-infestans.html



4.   VIRUS

Nama patogen : Penyakit tungro (VTP)
Klasifikasi          :
Family    : caulimoviridae
Genus    : Tungrovirus
Spesies  : rice tungrobacilliform virus
                     


Gambar : Virus tungro padi
Bioekologi
            Penyakit tungro disebabkan oleh virus yang disebut dengan virus tungro padi (VTP). Virus ini bersifat non persisten, artinya virus tersebut hanya dapat menyerangtanaman dalam masa yang pendek saja. Suda h diketahui bahwa VTP terdiri dari dua bentuk yaitu yang berbentuk batang (RTBV = Rice Tungro Bacciliform Virus) dan virus yang bulat isometri (RTSV = Ric Tungro Spherical Virus). Tanaman yang terserang tungro bisa mengandung kedua virus tersebut namun dapat juga mengandung hanya salah satu saja. VTP tersebut berada dalam jaringan tanaman sakit, terutama dalam jaringan daun.
            Virus tungro padi ditularkan melalui serangga penular (vektor) yaituwereng hijau (Nephotettix spp) atau wereng loreng [Recilia Dorsalis].VTP ditularkan secara non persisten oleh vektornya. Serangga vektor hanya memerlukan waktu pengisapan dari tanaman sakit 3 - 5 menit, kemudian sudah mampu menularkan virus. kepada tanaman sehat yang rentan. Virus dapat tetap tahan di dalam badan serangga selama kurang lebih S hari.  serangga yang paling efektif sebagai vektor.Demikian pula serangga yang telah berganti kulit tidak efektif setelah mengisap
Tanaman sakit. Nephottetix sp. dikenal sebagai wereng hijau, karma warnanya hijau Ban menyerang bagian daun tanaman path. Serangga dewasa berukuran 4 - 6 mm, telurnya berbentuk bulat panjang atau lonjong berwarna terang (kuning pucat), berukuran 1,3 X 0,30 mm. Telur ini diletakkan berderet-deret sebanyak 5 -25 butir. Serangga betina mampu bertelur 200 - 300 butir yang diletakkan di dalam jaringan pelepah daun. Telur menetas setelah 4 - 8 hari Ban membentuk serangga muda (nimfa). Nimfa ini mengalami 5 kali ganti kulit selama 16 -18 hari Ban menjadi dewasa setelah 2 - 3 hari kemudian.

Gejala Serangan
            Gejala serangan penyakit virus tungro pada tanaman padi tergantung ketahanan tanaman dan umur tanaman sewaktu terinfeksi. Secara garis besar gejala-gejala tersebut adalah sebagai berikut:
Ø Daun-daun menjadi berwarna kuning oranye atau jingga dan daun-daun muda yang baru keluar memendek dan menggulung.
Ø Pertumbuhan tanaman terhambat atau kerdil.
Ø Anakan berkurang.
Ø Bila serangan telah terjadi, sejak di pesemaian atau pada tanaman muda       yangberumur kurang dari satu bulan, bulir yang dihasilkan relatif lebih kecil, bahkan bila serangan berat, tanaman tidak menghasilkan bulir sama sekali.
Ø Bila infeksi terjadi setelah tanaman berbunga atau berumur kira-kira 60 harihasil tanaman tidak berpengaruh.
            Gejala tanaman padi yang terserang virus tungro sangat mirip dengan gejala tanaman yang kekurangan unsur hara (penyakit fisiologis), sehingga untuk menentukan apakah suatu tanaman terserang virus tungro atau karena kekurangan unsur hara dapat dilakukan test sederhana yaitu penularan secara buatan melalui perantaraan.
ü  Vektor (wereng hijau), caranya sebagai berikut:
§  Buat pesemaian padi dari varietas peka di dalam pot yang disungkup dengan

ü  Kasa kedap wereng.
§  Bila pesemaian telah berumur 7 hari, kemudian di infeksi dengan wereng hijau yang diambil dari tanaman yang diduga terserang virus tungro.
§  Pengamatan dilakukan setelah 10 hari, jika pesemaian menunjukkan gejala yang sama dengan gejala tanaman terserang virus tungro, berarti pertanaman terserang virus tungro dan bukan kekurangan hara.

Pengendalian
Adapun komponen pengendalian yang
dapat diterapkan secara terpadu untuk mengatasi hama/penyakit tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sanitasi
Tujuan sanitasi untuk menghilangkan sumber penyakit. Tanaman sakit yang berumur kurang dari 2 bulan sisa-sisa tanaman sakit dan tanaman inang pengganti harus dimusnahkan. Apabila serangan terjadi pada tanaman yang sudah keluar malainya, sanitasi dilakukan dengan cara selektif yaitu ditujukan pada tanaman yang terserang. Cara pemusnahannya (sanitasi) dengan membakar atau membenamkan seluruh bagian tanaman, sisa-sisa tanaman dan rerumputan kedalam Lumpur, kemudian diikuti dengan pengolahan tanah dan lahan dibiarkan dalam keadaan terolah sampai dengan saat mulai bertanam secara bersamaan. Inang pengganti yang ada disekitar areal pertanaman padi juga hangus dimusnahkan.
2. Penggunaan Varietas Tahan
Pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan varietas tahan merupakan cara paling aman dan murah bagi petani. Penanaman varietas padi tahan terhadap tungro dan wereng hijau telah lama dilakukan, namun demikian pelaksanaannya di lapangan masih terus diadakan perbaikan. Hasil evaluasi ketahanan varietas dari tahun ke tahun ternyata bervariasi, artinya varietas yang semula tahan setelah ditanam beberapa musim menjadi tidak tahan. Usaha untuk memantapkan ketahanan varietas dilakukan dengan cara :
·         Memilih varietas yang mempunyai resistensi horizontal
·         Pergiliran tanaman dengan non padi
·         Menanam tanaman peka sebagai perangkap, kemudian diperlukan dengan    pestisida
·         Pergiliran varietas
·         Menanam beberapa varietas yang mempunyai gentahan beraneka ragam

Sumber
Anonim, 1985. Penyakit Tungro & Cara mengatasinya, Balai Informasi Pertanian Hawa Timor


5.   NEMATODA
Nama Patogen : Meloidogyne sp.
Klasifikasi:  
Kingdom           : Animalia
Phylum             : Nematoda
Class                : Secernentea
Order               : Tylenchida 
Family              : Heteroderidae
Genus               : Meladogyne         
                                                      Species            : M. incognita

Gambar : puru akar pada tomat

Bioekologi
            Semua spesis nematoda puru akar akan memiliki siklus hidup yang sama (sherf dan macnab, 1986). Lama siklus hidup nematoda puru akar sekitar 18-21 hari atau 3-4 minggu dan akan menjadi lama pada suhu yang dingin. Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor betina tergantung pada kondisi lingkungan , biasa betina menghasilkan telur 300- 800 telur, dan kadang-kadang menghasilkan lebih dari 2800 telur.
            Larva tingkat 2 menetas dari telur yang kemudian bergerak menuju tanaman inang untuk mencari makanan, terutama pada bagian ujung meristem,larva kemudian menembus korteks akibatnya pada tanaman yang rentan terjadi infeksi dan menyebabkan pembesaran sel-sel. Larva menggelembung dan melakukan pergantian kulit dengan cepat untuk kedu dan ketiga kalinya, selanjutnya menjadi jantan dewasa atau betina yang dewasa dan berbentuk memanjang didalam kutikula, stadiun keempat muncul dari jaringan akar dan menghasilkan telur secara terus menerus selama hidupnya.
            Suhu mempengaruhi perkembangan nematoda terhadap penetasan telur, reproduksi, paergerakan dan perkembangannya. Pada umunya parasit tanaman tidak aktif pada suhu rendah yaitu 5-15 0c dan suhu tinggi yaitu 30-40 0c adalah suhu optimum untuk infeksi multiplikasi serta peningkatan paru.
.
Gejala Serangan
Tanaman tomat yang terserang penyakit cacing puru akar ditandai antara lain pertumbuhan tanaman menjadi kerdil,daunnya menguning dan layu di hari-hari panas.Sedangkan pada akarnya terdapat puru-puru (bintil/benjolan/ tumor) yang merupakan cirri khas serangan cacing puru akar.
Pengendalian
(1)  Pergiliran tanaman
(2)  Menggunkan nematisida karena upaya ini relative mudah dan hasilnya cepat terlihat. Dengan cara ditaburkan dalam alur yang digali sekeliling tanaman sedalam 15 cm pada jarak 20 cm dari batang tanaman, dan pemberiannya cukup satu kali saja.
(3)  Pencabutan akar.

 Pengendalian
-   Pengendalian dengan bercocok tanam melalui pengaturan waktu tanam yaitu menanam tanaman pada waktu  yang tidak sesuai dengan perkembangan nematoda.
- Membajak tanah agar nematoda yang ada pada lapisan dalam tanah akan naik keatas permukaan tanah sehingga terjadi pengeringan oleh panas matahari, kelembaban tanah, perbaikan dan komposisi tanah dengan pemupukan.
- Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan penggunaan penanifhas dan prophus.
Pengendalian secara hayati pelaksanaannya menggunakan mikroorganisme pada nematoda yang sekarang giat diteliti. Pengendalian hayati dilakukan dengan menggunakan parasit  atau predator pada telur, larva atau nematoda dewasa agar dapat menekan populasi nematoda.
Sumber :

welcome

Browse